Mohon maaf sebelumnya, saya hanya berniat berbagi kisah yang mungkin anda sudah pernah membacanya. Tetapi jika belum, barangkali kisah-kisah ini dapat diambil hikmahnya oleh para pembaca dan terima kasih atas kunjunganya.....semoga kisah kisah ini ada manfaatnya ^_______^

Selasa, 15 Juni 2010

Puluhan warga Jejeg geruduk Bawasda

JEJEG - Sekitar 50 orang perwakilan warga Desa Jejeg, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Rabu (26/3), menggeruduk Kantor Badan Pengawas Daerah (Bawasda) Kabupaten Tegal ketika Bawasda sedang melakukan penyidikan kepada sejumlah tokoh desa, seperti BPD, LKMD, Sekdes dan tokoh kunci lainnya.
Tokoh masyarakat Desa Jejeg, Maftukhi mengungkapkan, aksi warga mendatangi kantor Bawasda tersebut guna menuntut penegakan hukum terkait penggunaan aliran dana pemerintah. Dan mereka meminta klarifikasi jawaban surat laporan evaluasi pelaksanaan pembangunan desanya yang diduga diselewengkan Kepala Desa (Kades) Jejeg Khodir.

”Dalam surat tertanggal 15 Februari, warga mempertanyakan penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) termin I tahun 2007 yang tidak jelas. Termasuk penggunaan dana ADD sebesar Rp 32 juta untuk menutup pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB),” ujarnya.

Selain itu, kata dia, warga juga mempertanyakan penggunaan dana IKK sebesar Rp 25 juta serta memprotes penjualan raskin (beras miskin) sebesar Rp 2.000 per kg oleh kades kepada kelompok kerja (pokja). Sehingga sampai di tangan RTM menjadi Rp 2.500 per kg.

”Bahkan realisasi plesterisasi 20 rumah warga yang masing-masing besarnya Rp 500 ribu juga dipertanyakan,” imbuhnya.

Menutupi pajak
Di lain pihak, Kades Jejeg, Khodir, yang baru menjabat satu tahun, membantah tuduhan yang ditujukan kepada dirinya, karena penggunaan dana ADD untuk menutupi pajak sudah diperbolehkan oleh kecamatan.

”Penggunaannya sangat jelas, dana tersebut dipakai untuk membiayai pembangunan fisik berupa jalan sebesar Rp 25 juta yakni pembangunan jalan di dua tempat masing-masing seluas 210 m2. Bahkan kami juga telah membuat jalan sepanjang 100 m,” paparnya.

Dia menambahkan, menyangkut plesterisasi tahun 2006 dilakukan sebelum dirinya menjabat kades. Sedangkan soal penjualan raskin Rp 2.500 per kg, dia mengaku hanya menjual Rp 1.800 per kg, dengan rincian Rp 1.600 telah disetorkan dan Rp 200 digunakan sebagai biaya operasional.

”Yang jelas, dana IKK Rp 25 juta saya gunakan untuk membuat jalan aspal sepanjang 210 meter dan irigasi. Penjualan beras OPK atau raskin tidak dijual oleh saya, tetapi oleh Pokja. Sementara perbaikan gedung serba guna anggarannya Rp 800 ribu. Proses tadi telah dikonsultasikan ke BPD dan LKMD maupun tokoh masyarakat desa,” tukasnya. gus-bg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan komen..tapi ingat jangan spam /sejenisya